Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Nabi Ibrahim AS dan Hari Raya Idul Adha

kisah nabi ibrahim as

Sebagai seorang umat muslim, tentu sudah tak asing lagi dengan hari raya. Dari kecil hingga dewasa telah diajarkan oleh kedua orang tua tentang hari raya. Dimana pada hari raya semua umat muslim berkumpul bersama keluarga, teman, sahabat, saling memaaf-maafkan antara satu sama lain.

Namun ada kisah tersendiri dibalik perayaan hari raya idul adha, yaitu kisah seorang nabi yang bernama Ibrahim A.S yang hendak mengurbankan seorang anaknya. Bagaimana kisahnya? Silahkan disimak sebagai berikut.

Hari Raya Idul Adha

Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban, merupakan satu hari yang berbahagia dimana kita dapat berkumpul bersama keluarga, teman, kerabat, serta sanak saudara untuk menyambut dan merayakan hari yang bahagia ini dengan keluarga tercinta.

Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban, biasanya identik dengan pemotongan daging sapi atau kerbau dan daging kambing atau domba, serta keadaan pada saat para Jamaah Haji wukuf di Padang Arafah dan kemudian melanjutkan tawaf di Tanah Suci Mekkah, Arab Saudi.

Namun kiranya karena masih dalam keadaan pandemi Covid-19, sehingga pihak Panitia pusat dari Arab Saudi mengumumkan bahwa keberangkatan Ibadah Haji ke Tanah Suci pada Tahun 2020 dibatalkan.

Sungguh sangat disayangkan memang, bahwa perayaan Haji terbesar sepanjang tahun, namun harus dibatalkan demi keselamatan seluruh umat Muslim yang ada di Muka Bumi ini.

Kisah Nabi Ibrahim AS dan Hari Raya Idul Adha

gambar ka'bah
Ibadah Haji di Makkah

Perayaan Hari Raya Idul Adha bukan merupakan suatu perayaan-perayaan biasa, ada kisah dibalik Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban. Kisah ini dimulai pada saat Nabi Ibrahim AS mulai beranjak dewasa.

Ibrahim kecil merupakan sosok anak yang baik, patuh, dan taat akan perintah kedua orang tuanya, akan tetapi hanya satu yang beliau enggan patuh, yaitu menyembah berhala atau patung-patung yang besar. Oleh karena itu, Ibrahim bertekad untuk mencari dan menemui siapakah Tuhan yang sesungguhnya.

Perjalanan Ibrahim dimulai dari saat beliau belum mengetahui Allah, hingga beliau telah bertemu Allah, menyembah Allah, mengikuti ajaran Islam dan akhirnya beliau dikucilkan atau ditolak oleh kaumnya.

Namun beliau tak berputus asa hingga akhirnya beliau menjadi seorang Nabi, Nabi Allah yang mendapat julukan Khalilullah atau Nabi Kesayangan Allah SWT.

Kisah tersebut telah dijelaskan dalam Al-Qur'anTerdapat beberapa ayat yang menjelaskan sebagian kisah tentang pencarian Ibrahim mengenai Tuhannya, seperti yang tertuang dalam Al-Qur'an surah Al-An'am ayat 76, 77, dan 78, yang artinya :

"Ketika malam telah gelap, Dia melihat sebuah bintang (lalu) Dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam Dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam." (QS. Al-An'am:76).
"Kemudian tatkala Dia melihat bulan terbit Dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, Dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat." (QS. Al-An'am:77).
"Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, Dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, Dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan." (QS. Al-An'am:78).

Dari kisah diatas kita dapat melihat bahwa ketangguhan, ketabahan, dan ketaatan Nabi Ibrahim AS untuk Allah SWT sangatlah besar melebihi segala-galanya. Namun ketaatan Nabi Ibrahim AS kembali diuji setelah beliau telah memiliki seorang putra, yang bernama Nabi Ismail AS.

Pada malam itu ketika beliau terbangun dari tidurnya, beliau menceritakan kepada Istrinya Siti Hajar dan anaknya Ismail AS bahwa ia bermimpi diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih anaknya Nabi Ismail AS.

Mendengar cerita tersebut istrinya Siti Hajar bersedih, betapa tidak bahwa anak yang dicintai dan dikasihi sepenuh hati harus disembelih. Lain Siti Hajar lain pula Nabi Ismail AS. Setelah mendengar cerita dari sang Ayah kemudian Ismail AS berkata :

"Jika sesungguhnya itu adalah perintah dari Allah SWT, maka wahai Ayahku aku bersedia meski harus dikurbankan (disembelih)." Mendengar ucapan dari sang anak, Nabi Ibrahim AS sesungguhnya tak kuasa menahan rasa sedih, akan tetapi beliau tetap harus melaksanakan perintah tersebut demi menjalankan perintah dari Allah SWT.

Kisah tersebut telah tertuang didalam Al-Qur'an surah As-Saffat ayat 102 dan 103, yang artinya :

"Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, "Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!" Dia (Ismail) menjawab, "Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar". (QS. As-Saffat: 102).
"Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya, (untuk melaksanakan perintah Allah). (QS. As-Saffat: 103).

Setelah selesai perbincangan tersebut maka Nabi Ismail AS bersedia untuk disembelih. Namun ketika Nabi Ismail AS berbaring dan siap untuk disembelih Allah katakan kepada Nabi Ibrahim bahwa persembahan tersebut diganti oleh Allah dengan seekor domba yang besar.

Sebagaimana firman Allah didalam Al-Qur'an surah As-Saffat ayat 104 dan 107 , yang artinya :

"Lalu Kami panggil dia, "Wahai Ibrahim!." (QS. As-Saffat: 104).
"Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." (QS. As-Saffat: 107).

Itulah tadi sepenggal cerita dan kisah teladan dari Nabi Ibrahim AS, oleh karena itu hingga saat ini peristiwa dan kisah tersebut dijadikan sebagai salah satu sejarah umat Islam yang paling bersejarah yang dikenal dengan Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban. Mungkin masih banyak kisah sejarah tentang perjalanan Nabi dan Rasul yang lainnya.

Namun jika kalian ingin melihat kisah lengkap dari Nabi Ibrahim AS yang hendak menyembelih anaknya Nabi Ismail AS, silahkan buka Al-Qur'an surah As-Saffat.

Penutup

Demikianlah cerita singkat tentang Kisah Nabi Ibrahim AS dan Hari Raya Idul Adha 1441 Hijriyah, semoga dari kisah tersebut dapat memetik sebuah hidayah dan dapat menginspirasi semua umat muslim serta menjadikan suri tauladan terhadap pedoman hidup.

Semoga semua umat muslim senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT agar mendapat limpahan keberkahan bagi kita semua. Dan semoga masih dapat berjumpa di Hari Raya Idul Adha di tahun-tahun berikutnya.

2 komentar untuk "Kisah Nabi Ibrahim AS dan Hari Raya Idul Adha"

  1. Allahuakbar, sangat menginspirasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, terimakasih banyak gan, Allahuakbar.

      Hapus