Pengertian Bahasa Rakyat

pengertian bahasa rakyat

Indonesia merupakan negara yang memiliki penduduk hingga triliyunan yang tidak akan bisa dihitung satu per satu. Ada banyak ragam budaya, bahasa, serta kesenian tradisional yang ada di berbagai daerah.

Jika anda merupakan warga asli penduduk Indonesia tentu tidak akan asing dengan Bahasa tradisional atau Bahasa rakyat. Berikut merupakan pembahasan mengenai bahasa tradisional atau yang biasa disebut bahasa rakyat.

Penjelasan Mengenai Bahasa Rakyat

Bahasa rakyat merupakan bahasa yang tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat, baik itu di kalangan menengah kebawah atau menengah ke atas yang sudah terjadi secara turun-temurun sejak masa lampau.

Adapun beberapa bentuk tradisi lisan dalam bahasa rakyat seperti logat atau dialek, slang, bahasa pedagang (shoptalk), sirkumlokusi, cara pemberian nama pada seseorang, pemberian gelar kebangsawanan, bahasa bertingkat (speech level), kata-kata onomatopoetis (onomatopoetic), dan kata-kata onomatis. Menurut James Danandja, bahasa rakyat mempunyai empat fungsi, antara lain :

  • Memberi dan memperkokoh identitas kelompok.
  • Melindungi pemakai bahasa rakyat dari ancaman kelompok lain atau penguasa.
  • Memperkokoh pemakai bahasa rakyat dalam sistem pelapis sosial masyarakat.
  • Memperkokoh kepercayaan rakyat terhadap nilai-nilai budayanya.

Bahasa rakyat menunjukkan situasi sosial budaya suatu masyarakat. Hal itu ditunjukkan dalam pemakaian bahasa bertingkat atau speech level yang berkaitan dengan pembentukan stratifikasi sosial dalam masyarakat. Seperti halnya, pembagian bahasa Jawa berdasarkan bahasa Jawa ngoko (kasar), bahasa Jawa kromo (halus), dan bahasa Jawa kromo inggil (sangat halus).

Bahasa ngoko dipakai dalam komunikasi rakyat biasa. Bahasa kromo dipakai sebagai sarana komunikasi oleh golongan menengah dan bahasa kromo inggil dipakai sebagai sarana komunikasi oleh para bangsawan.

a. Logat

Logat atau dialek adalah gaya bahasa suatu daerah di Indonesia. Misalnya, logat bahasa Jawa Indramayu yang merupakan campuran bahasa Jawa dan bahasa Sunda, logat bahasa Sunda dari Banten, logat bahasa Jawa Cirebon, logat bahasa Sunda Cirebon, serta logat bahasa Lahat dari Sumatera Selatan.

b. Slang

Slang atau bahasa rahasia (cant) adalah ragam bahasa tidak resmi yang bersifat musiman dan dipakai oleh suatu kelompok masyarakat tertentu dengan maksud menyamarkan arti dari bahasanya terhadap orang lain atau orang luar.

Menurut kamus Websters New World Dictionary of the American Language, slang atau cant berasal dari kosakata dan idiom yang digunakan oleh para penjahat, wanita pekerja se*s komersial (PSK), dan gelandangan. Cant dikalangan para penjahat disebut juga argot.

Misalnya, pengangguran istilah jengkol untuk menyebut kacamata yang akan menjadi sasaran penjambretan dan rumput untuk menyebutkan polisi dikalangan para penjahat di Jakarta. Ragam bahasa slang juga digunakan oleh para wanita pekerja se*s komersial (PSK) di akhir setiap suku kata yang mereka ucapkan. Misalnya, kata kowe (kamu) setelah diimbuhi suku kata se menjadi kosewese.

c. Bahasa Pedagang (Shoptalk)

bahasa pedagang
Bahasa pedagang digunakan di kalangan pedagang

Bahasa pedagang adalah ragam bahasa yang digunakan di kalangan para pedagang untuk melakukan transaksi jual-beli. Di Jakarta, bahasa pedagang yang digunakan di pasar-pasar sejak dahulu berasal dari istilah yang dipinjam dari bahasa Mandarin dialek hokkian.

Misalnya istilah-istilah harga suatu barang atau jasa, sepeti jigo (dua puluh lima rupiah), cepek (seratus rupiah), dan cetiau (satu juta rupiah). Adapula di Lahat, Sumatera Selatan istilah untuk menentukan satuan harga dari suatu barang atau jasa seperti selawi yang artinya dua puluh lima (bisa rupiah, ribuan, atau jutaan), tengah due artinya (seratus lima puluh), dan due setengah artinya (dua ratus lima puluh).

d. Sirkomlokusi (Circumlocution)

Sirkomlokusi adalah ungkapan tidak langsung yang digunakan untuk menyebutkan suatu benda atau suatu tempat. Misalnya, sirkomlokusi binatang atau tanaman. Contoh sirkomlokusi binatang adalah penyebutan istilah harimau yang hidup di suatu hutan dengan istilah Puyang (sesepuh) dalam istilah masyarakat Basemah Sumatera Selatan, eyang (kakek) dalam masyarakat Jawa, dan datuk (kakek) istilah di kalangan masyarakat Jambi.

Penggunaan sirkomlokusi nama binatang tersebut digunakan untuk menghindari terkaman harimau apabila seseorang akan berjalan melewati hutan. Menurut kepercayaan masyarakat Basemah Sumatera Selatan, harimau di hutan tidak akan menerkam manusia apalagi menerkam manusia apabila manusia yang berkunjung ke hutan tersebut tidak melakukan perbuatan tercela yang dapat mengotori ke sucian dari hutan tersebut.

Adapun di kalangan masyarakat Jawa, mereka meyakin bahwa seorang kakek tidak akan melukai dan membunuh cucunya sendiri. Di kalangan masyarakat Bali juga terdapat kepercayaan untuk tidak mengucapkan beberapa istilah tertentu selama panen. Jika dilanggar, maka penyebutan istilah yang dilarang tersebut mengakibatkan kegagalan panen.

Oleh karena itu, digunakanlah kata-kata sirkomlokusi. Misalnya, penggunaan istilah kutu sawah untuk menggantikan kata kerbau, atau penggunaan kata kutu dahan untuk menggantikan kata monyet, dan ada juga istilah lintah darat yang mengartikan bahwa seseorang tersebut hanya ingin mendapatkan kesenangan semata layaknya seekor lintah yang selalu haus akan darah.

e. Pemberian Nama pada Seseorang

Cara pemberian nama pada seseorang merupakan contoh bahasa rakyat. Pemberian nama pada seseorang terbagi atas pemberian nama tambahan kepada pria dewasa dan pemberian nama berdasarkan ciri fisik seseorang. Pemberian nama tambahan pada pria dewasa lazim dilakukan di Jawa Tengah. Sejak lahir, seseorang tidak mempunyai nama dewasa (jeneng tuwo).

Meskipun sudah jarang dilakukan, penambahan nama dewasa masih ditemui di daerah pedesaan Surakarta atau Yogyakarta. Pemberian nama dewasa tersebut disesuaikan dengan pekerjaan seseorang. Misalnya, seorang juru tilis di desa akan diberi nama tambahan Sastro Darsono. Waktu itu pernah ada seorang aparat desa yang bernama Budianto setelah mendapatkan tambahan nama akan menjadi Budianto Sastro Darsono.

Pemberian nama pada seseorang juga dilakukan berdasarkan ciri-ciri fisiknya. Di Jawa Tengah masih terdapat kebiasaaan untuk memberi nama julukan pada seseorang, selain nama pribadinya berdasarkan bentuk tubuh seseorang.

Misalnya, si jangkung (tinggi), si pendek (pendek), dan si nonong (dahinya menonjol). Pemberian nama julukan ini dilakukan dalam lingkungan informal dengan tujuan untuk menambah keakraban.

f. Pemberian Gelar Kebangsawanan dan Jabatan Tradisional

pemberian gelar kebangsawanan
Pemberian gelar kebangsawanan di Keraton Solo

Pemberian gelar kebangsawanan dan jabatan tradisional adalah salah satu bentuk bahsa rakyat. Pemberian gelar kebangsawanan atau jabatan tradisional ini masih dilakukan di Keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Gelar kebangsawanan seorang pria di Jawa Tengah secara berturut-turut adalah mas, raden, raden mas, raden panji, raden tumenggung, raden ngabehi, raden mas panji, dan raden mas aria. 

Gelar kebangsawanan seorang wanita di Jawa Tengah secara berturut-turut adalah raden roro, raden ajeng, dan raden ayu.

Gelar jabatan tradisional tersebut juga masih terdapat di desa Adat Trunyan, Bali. Seperti, kubuyan, bau mucuk, saing nem, dan punggawa. Adapun gelar Tradisional di Palembang, Sumatera Selatan seperti Ki agus untuk sebutan putra dan Nyimas atau Nyayu untuk sebutan putri.

g. Bahasa bertingkat

Bahasa bertingkat atau speech level adalah bahasa yang digunakan berdasarkan adanya perbedaan stratifikasi sosial dalam masyarakat. Bahasa bertingkat berlaku dalam lapisan masyarakat, tingkatan masyarakat, dan kelompok umur. Penggunaan bahasa bertingkat berkaitan dengan nilai budaya masyarakat dan sopan santun.

Contoh jenis bahasa bertingkat di kalangan masyarakat Jawa Tengah adalah, bahasa ngoko (bahasa yang tidak resmi dan bersifat kurang sopan) dan bahasa kromo inggil (merupakan bahasa yang bersifat resmi dan sopan).

Adapun contoh bahasa bertingkat di dalam bahasa Sunda adalah bahasa kasar (bahasa yang tidak sopan dan tidak resmi), bahasa penengah (bahasa yang kurang sopan dan kurang resmi), dan bahasa lemes (bahasa yang bersifat sopan dan resmi). Contoh bahasa bertingkat lainnya yaitu pada bahasa Bali seperti nista (rendah, madia (menengah), dan utama (resmi).

h. Onomatopoetis

Onomatopoetis adalah kata-kata yang dibentuk dengan mencontoh bunyi atau suara alamiah. Misalnya, kata greget terbentuk dalam bahasa Betawi, yang berarti perasaan sengit sehingga seolah-olah ingin menggigit orang yang menjadi sasaran kemarahan.

Kata greget terbentuk dengan mencontoh suara beradunya barisan gigi rahang atas dan rahang bawah. Contoh onomatopotis dalam bahasa Jawa adalah kata gemlodak (riuh rendah) untuk mengambarkan bunyi suatu benda yang terguncang dalam sebuah kotak kayu.

i. Onomastis

simbol kota surabaya
Simbol kota Surabaya yang diambil dari peristiwa pertempuran hiu dan buaya

Onomastis adalah pemberian nama tradisional pada suatu tempat atau bangunan tertentu berdasarkan legenda sejarah. Misalnya, pemberian nama kota Surabaya untuk mengenang pertempuran antara hiu (sura) dan buaya (boyo). Masih banyak lagi tempat-tempat atau kota di Indonesia yang pemberian namanya berdasarkan legenda sejarah.

Seperti, asal usul nama kota Banyuwangi yang terkait dengan legenda Putri Kembang Arum, asal usul nama Pelabuhan Ratu, dan pendirian Kerajaan Samudra Pasai yang berkaitan dengan legenda Marah Silu.

Berikut adalah cerita mengenai asal mula nama Candi Bajang Ratu di Trowulan, Jawa Timur. Asal usul Candi Bajang Ratu berasal dari kata bajang yang berarti kerdil atau gagal, dan ratu yang berarti raja.

Nama tersebut terkait dengan dongeng putri raksasa bernama Dewi Arimbi yang dipersunting oleh Prabu Brawijaya V dari kerajaan Majapahit. Pada saat Dewi Arimbi sedang hamil muda, Prabu Brawijaya V membangun sebuah gapura sebagai pintu gerbang ke tempat kediaman putra mahkota yang akan lahir.

Namun, saat akan melahirkan, Dewi Arimbi justru semakin sedih karena merasa dirinya keturunan raksasa. Selanjutnya, secara diam-diam ia meninggalkan kraton dan melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Damar di hutan Darmawulan.

Namun, tak lama setelah dilahirkan bayi tersebut meninggal sehingga Dewi Arimbi pun konon tidak pernah kembali lagi ke istana untuk selama-lamanya.

Oleh karena itu, pembangunan gapura tersebut tidak diteruskan oleh Raja Brawijaya V. Sebagai peringatan atas peristiwa tersebut dinding gapura dibuat relief raksasa dan diberi nama Bajang Ratu.

Penutup

Demikianlah pembahasan mengenai pengertian bahasa rakyat. Ada banyak bahasa rakyat atau bahasa tradisional yang tersebar di nusantara, namun hanya diambil beberapa contoh untuk dijadikan sebagai bahan penulisan. Semoga pembahasan tersebut dapat memberikan pelajaran dan pengetahuan tentang sejarah serta menambah wawasan dalam informasi sejarah.

Posting Komentar untuk "Pengertian Bahasa Rakyat "