Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengaruh Persia Dalam Pemerintahan Dinasti Abbasiyah

pengaruh persia dalam pemerintahan dinasti abbasiyah

Dinasti Abbasiyah atau kekhalifahan Abbasiyah adalah kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Baghdad. Dinasti Abbasiyah memerintah dalam jangka waktu yang sangat lama, yaitu dari tahun 132-656 H (750-1258 M) dan dikenal sebagai zaman keemasan dan kejayaan Islam.  

Pengaruh Persia dalam pemerintahan Dinasti Abbasiyah tidak bisa lepas dari sejarah berdirinya dinasti ini. Abbasiyah meminta bantuan dari Persia untuk memperkuat kekuatan mereka melawan Dinasti Umayyah. Pengaruh ini dirasa semakin kuat setelah pusat pemerintahan dipindah ke Baghdad. 

Pada periode pertama Dinasti Abbasiyah yang disebut sebagai pengaruh Persia pertama, para khalifah masih memegang penuh kekuasaan sementara kekuatan sebenarnya berada di tangan orang-orang Persia. Pada periode ketiga yang disebut sebagai pengaruh Persia kedua, Dinasti Abbasiyah berada dibawah kekuasaan Bani Buwaihi.

Pengaruh Persia Dalam Bidang Politik

Pemerintahan Dinasti Abbasiyah adalah pemerintahan yang berkuasa di atas mandat ilahi. Begitulah sistem pemerintahan Dinasti Abbasiyah yang meniru sistem pemerintahan Persia. Para khalifah mengklaim bahwa mereka adalah wakil Allah di bumi. Hal ini ditunjukkan dengan penggunaan gelar para khalifah yang menunjukkan arti sebagai para khalifah Allah. 

Sistem pemerintahan berdasarkan mandat ilahi adalah sistem pemerintahan yang diterapkan oleh Kerajaan Persia. Sistem ini juga disebut sebagai islamisasi sistem kepemimpinan kaisar Persia pada zaman sebelumnya dan terus berlanjut ke generasi selanjutnya. Mereka memiliki paham bahwa darah ketuhanan telah mengalir dalam urat nadi mereka. 

Sistem ini didukung penuh oleh orang-orang Persia karena sesuai dengan anggapan orang-orang Persia kuno bahwa kekuasaan itu berasal dari Dewa. Mereka menganggap bahwa sistem pemerintahan Abbasiyah tidak jauh beda dari kebiasaan yang mereka lakukan selama ini, sehingga Dinasti Abbasiyah diterima dan mendapat dukungan dari orang-orang Persia.

Pengaruh lainnya yaitu penerapan sistem wazir dan pengangkatan beberapa pejabat pemerintahan dari orang-orang Persia. Khalifah Dinasti Abbasiyah menempatkan orang-orang Persia pada posisi strategis dalam bidang politik, baik jabatan sipil ataupun militer. Hal ini dilakukan sebagai bentuk ucapan terima kasih khalifah kepada orang-orang Persia khususnya mereka yang berasal dari Khurasan.  

Selain itu Dinasti Abbasiyah juga mengangkat seorang Wazir. Wazir adalah orang yang membantu dalam pelaksanaan tugas-tugas kenegaraan. Jabatan ini seperti jabatan menteri dan belum dikenal dalam Dinasti Umayyah, namun tugas-tugas sebelumnya dilaksanakan oleh sekretaris. 

Adanya jabatan ini, lambat laun peran keluarga khalifah digantikan oleh bentuk pemerintahan yang lebih maju dan memberi kesempatan lebih besar kepada non-keluarga khalifah untuk ikut serta memberi saran dan bahkan ikut serta dalam pengambilan keputusan politik.

Wazir bertugas sebagai tangan kanan khalifah. Dia menjalankan urusan-urusan kenegaraan atas nama khalifah. Wazir berhak mengangkat dan memecat pegawai pemerintahan, kepala daerah bahkan hakim. Wazir juga berperan mengkoordinasikan departemen-departemen, seperti Departemen Perpajakan, Departemen Pertahanan dan Departemen Keuangan.

Beberapa wazir yang diangkat pada masa Dinasti Abbasiyah diantaranya Khalid ibn Barmak pada masa pemerintahan Abu Abbas al-Saffah. Ia memimpin departemen keuangan (Diwan al-Kharaj) dan pada tahun 765 M ia menjadi gubernur di Tabaristan.

Pada masa pemerintahan Harun al-Rasyid diangkat seorang wazir bernama Ja’far bin Yahya. Ia adalah keturunan Barmak. Harun al-Rasyid mengangkat Ja’far bin Yahya sebagai wazir karena rasa terima kasihnya kepada Yahya al-Barmaki yang telah membelanya di depan khalifah al-Hadi ketika hendak memberikan putra mahkota kepada anaknya.

Pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, keluarga Barmaki memiliki peran penting dalam menjalankan roda pemerintahan hingga Abbasiyah mencapai masa kejayaannya. Kekuasaan keluarga Barmaki dalam pemerintahan Dinasti Abbasiyah berakhir ketika masa pemerintahan Harun al-Rasyid.

Selain keluarga Barmaki, ada pula Bani Buwaihi dari Persia yang juga ikut serta dalam sistem pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Bani Buwaihi memegang kendali atas kekuasaan Dinasti Abbasiyah pada saat itu. Hal ini disebabkan ketika Baghdad jatuh ke tangan Kerajaan Turki Usmani, Dinasti Abbasiyah meminta bantuan Bani Buwaihi untuk menjaga keselamatan khalifah.

Masuknya Bani Buwaihi dalam sistem pemerintahan Abbasiyah membuat dinasti ini berada dibawah kontrol Bani Buwaihi. Bani Buwaihi bertindak sewenang-wenang dan merebut hak-hak para khalifah. Contohnya saja para penguasa Bani Buwaihi dengan sesuka hati menurunkan dan mengangkat para khalifah sesuai keinginan mereka.

Keterlibatan Bani Buwaihi menyebabkan wilayah kekuasaan Dinasti Abbasiyah berkurang dan banyak daerah yang memerdekakan diri. Selain itu, kondisi perekonomian Dinasti Abbasiyah juga semakin merosot karena adanya pemungutan pajak yang tidak efisien yang dilakukan oleh orang-orang Bani Buwaihi.

Pengaruh Dalam Bidang Kebudayaan

Pada masa Dinasti Abbasiyah mulai timbul ciri-ciri seni bangunan Islam Persia. Di beberapa kota wilayah kekuasaan Dinasti Abbasiyah dibangun bangunan bersejarah yang bernilai seni budaya Islam. Seperti kota Baghdad dan Samara.

Arsitektur kota Baghdad berbentuk bundar, gaya baru dari seni bangunan kota Islam. Dipusat kota dibangun istana khalifah dan masjid Jami’. Dekorasinya dibuat dari bahan gibs, kemudian ditutup dengan gorden berhiaskan lukisan khas Persia.

Masjid tertua di Kufah yang di dirikan sekitar tahun 18 H / 639 M dengan bentuk yang sederhana dilengkapi dengan bahan-bahan bangunan Persia lama. Kemudian masjid ini dilengkapi dengan menara dan mihrab, tetapi belum menggambarkan ciri khusus sebagai seni bangunan Islam Persia. 

Kebudayaan Persia tidak hanya mempengaruhi bidang arsitektur Dinasti Abbasiyah, tetapi juga berpengaruh dalam bidang musik. Musik Arab mendapat pengaruh besar dari Persia dan banyak mengambil unsur-unsur Romawi.

Pada masa ini telah muncul tokoh-tokoh dengan berbagai teori musik, seperti Yunus bin Suleiman al Kitab, Khalil bin Ahmad dan Yahya bin Abi Mansur al Mausuly yang mengarang buku-buku mengenai not dan irama.

Para khalifah dan pejabat menaruh perhatian yang besar dalam bidang musik. Mereka mendirikan banyak sekolah musik di berbagai kota. Seperti sekolah musik yang didirikan oleh Said ad Din Mumin.

Tidak hanya musik dan bangunan yang mendapat pengaruh dari Persia, sastra Arab pun juga diwarnai oleh peradaban Persia. Banyak dilakukan kegiatan penerjemahan dalam bahasa Persia, seperti kegiatan penerjemahan yang dilakukan oleh Al-Fadhl ibn Nawbakhti.

Perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah juga tidak lepas dari peran orang-orang Persia, khususnya kaum Mawali. Kebangkitan intelektualisme golongan Mawali terutama dari bangsa Persia tercermin dari banyaknya nama-nama ilmuwan di berbagai bidang. 

Seperti, Hasan al Basri (w. 110 H), Ibnu Katsir (w. 120 H), Ibnu Juraij (w. 150 H), Abu Hanifah (w. 150 H), al-Thabari (w. 310 H) dan al-Ghazali (w. 510 H) adalah beberapa diantaranya yang tercatat sebagai ahli tafsir, teologi, hukum dan tasawuf.

Tokoh Persia dari kaum Mawali di bidang kedokteran adalah al-Razi (w. 313 H) dengan karyanya al-Hawi dam Ibnu Sina (w. 429 H) dengan dua karya yang sangat terkenal yaitu al-Syifa’ dan al-Qanun fi al-Thib.

Tidak hanya kaum Mawali yang melahirkan para ilmuwan pada masa Dinasti Abbasiyah, pengaruh Bani Buwaihi pada periode ketiga atau periode pengaruh Persia kedua pada Dinasti Abbasiyah juga melahirkan banyak ilmuwan penting.

Pengaruh Persia Dalam Bidang Sosial

Orang-orang Bani Buwaihi banyak membangun khan, masjid, rumah sakit serta membangun kanal. Khan adalah tempat penginapan yang biasanya dibangun di dekat masjid. Mereka juga membangun rumah sakit. Salah satu rumah sakit yang terkenal pada saat itu yaitu rumah sakit yang dibangun oleh Sultan Adhud ad-Daulah (367-372 H).

Dinasti Abbasiyah yang mengadopsi perdaban Persia dengan mengangkat seorang wazir juga mendirikan kantor Wizarat atau kantor kementrian. Kantor ini dibangun Dinasti Abbasiyah untuk memfasilitasi kegiatan yang dilakukan oleh para wizar atau para menterinya.

Terlepas dari berbagai pengaruh peradaban Persia dalam kehidupan Dinasti Abbasiyah, Dinasti Abbasiyah pada saat itu terbuka dengan berbagai pengaruh asing. Pengaruh-pengaruh ini membawa Dinasti Abbasiyah ke peradaban yang lebih maju.

Penutup

Demikianlah pembahasan mengenai Pengaruh Persia Dalam Pemerintahan Abbasiyah. Semoga pembahasan tersebut dapat memberikan pelajaran dan pengetahuan tentang sejarah, serta menambah wawasan dalam informasi sejarah.

Posting Komentar untuk "Pengaruh Persia Dalam Pemerintahan Dinasti Abbasiyah"