Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kerajaan Inderapura : Sejarah, Kejayaan, dan Runtuhnya

sejarah kerajaan inderapura

Secara etimologi Inderapura berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya Kota Raja. Pada awalnya Inderapura adalah kawasan rantau dari Minangkabau, yang berada di kawasan pesisir pantai lebih tepatnya dibagian barat Pulau Sumatera.

Sebagai kawasan rantau, Inderapura dipimpin oleh wakil yang ditunjuk dari Pagaruyung yang diberi gelar Raja dan Sultan. Raja yang memimpin Inderapura disebut sebagai putra Raja Alam atau disebut Yang Dipertuan Pagaruyung.

Mengenal Kerajaan Inderapura

Kerajaan Inderapura atau dikenal sebagai Ujung Pagaruyung, merupakan kerajaan tua yang sudah ada sejak lama. Namun pada abad ke-15 kekuasaan pagaruyung mulai melemah. Karena hal itulah beberapa daerah pada kawasan pesisir Minangkabau seperti Inderagiri, Jambi, dan Inderapura dibiarkan mengurus daerahnya masing-masing.

Namun perkembangan Inderapura baru benar-benar dimulai saat Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511. Arus perdagangan yang tadinya melalui Selat Malaka sebagian besar beralih ke pantai barat Sumatera dan Selat Sunda. Perkembangan dan ekspansi Inderapura didominasi pada sektor perkebunan terutama ditunjang oleh lada.

Pada pertengahan abad ke-16 didorong usaha penanaman lada dari batas selatan Inderapura mencapai Silebar (sekarang di Provinsi Bengkulu), oleh karena itu Inderapura menjalin persahabatan dengan Banten dan Aceh agar dapat mengembangkan perekonomian rakyat terutama dibidang perkebunan untuk memperbanyak tanaman lada.

Kejayaan Inderapura

Saat Kesultanan Aceh melakukan ekspansi sampai ke wilayah Pariaman. Inderapura bertemu dengan raja dari Aceh, yang kemudian menjalin persahabatan dengan Aceh melalui ikatan perkawinan dengan Raja Dewi, yang merupakan anak dari Sultan Firman Syah. Sultan Firman Syah merupakan saudara dari raja aceh pada masa itu, raja tersebut bernama Sultan Ali Ri’ayat Syah (1568-1575).

Namun hubungan perkawinan ini tidak berjalan dengan manis. Meski di sektor perekonomian, Inderapura mendapatkan pengaruh besar di Kotaraja (Banda Aceh). Akan tetapi para hulubalang dari Inderapura disebut-sebut berkomplot dalam pembunuhan putra Sultan Ali Ri’ayat Syah, sehingga melancarkan jalan untuk suami Raja Dewi naik tahta dengan nama Sultan Sri Alam.

Walau kekuasaannya hanya berlangsung selama tiga tahun sebelum tersingkir dari tahtanya karena pertentangan dengan para ulama di Aceh. Namun pengaruh Inderapura terus bertahan di Kesultanan Aceh, dari 1586 sampai 1588 salah seorang yg masih berkaitan dengan Raja Dewi, memerintah dengan gelar Sultan Ali Ri’ayat Syah II atau Sultan Buyong, sebelum akhirnya terbunuh oleh intrik ulama Aceh.

sejarah kerajaan pagaruyung
Istana Pagaruyung

Kerajaan Inderapura merupakan sebuah kerajaan yang berada di wilayah kabupaten Pesisir Selatan (sekarang telah menjadi Provinsi Sumatera Barat) serta berbatasan dengan Provinsi Bengkulu dan Jambi. Kerajaan ini secara resmi pernah menjadi bawahan (vazal) Kerajaan Pagaruyung.

Walau pada prakteknya kerajaan ini berdiri sendiri serta bebas mengatur urusan dalam dan luar negerinya. Pada masa kejayaannya, wilayah Kerajaan ini meliputi pantai barat Sumatera mulai dari Padang di utara sampai Sungai Hurai di selatan. Produk terpenting Inderapura adalah lada dan juga emas.

Pusat Wilayah Kekuasaan Inderapura

Pada akhir abad ke-17, pusat wilayah Inderapura mencakup lembah sungai Airhaji & Batang Inderapura, yang terdiri atas dua puluh koto. Masing-masing koto diperintah oleh seorang menteri, yang berfungsi seperti penghulu di wilayah Minangkabau lainnya.

Sementara pada daerah Anak Sungai, seperti Lembah Manjuto, Airdikit (disebut sebagai Negeri Empat Belas Koto), dan Muko-muko (Lima Koto) juga menerapkan sistem pemerintahan yang tak jauh berbeda.

Untuk kawasan bagian utara, disebut dengan Banda Sapuluah (Bandar Sepuluh) yang dipimpin oleh Rajo nan Ampek (4 orang yang bergelar raja, yaitu ; Raja Airhaji, Raja Bungo Pasang, Raja Kambang, dan Raja Palangai).

Kawasan ini merupaken semacam konfederasi dari 10 daerah atau nagari (negeri), dimana masing-masing daerahnya dipimpin oleh 10 orang penghulu. Pada kawasan bagian selatan, sistem pemerintahannya terdiri dari desa-desa yang berada di bawah wewenang peroatin (kepala yang bertanggung jawab menyelesaikan sengketa di muara sungai).

Para ketua adat ini awalnya berjumlah 59 orang (peroatin nan kurang satu enam puluh), namun admin tidak bisa menyebutkan satu per satu. Selain itu Para menteri dan ketua tunduk pada kekuasaan raja atau sultan. Adapun beberapa Raja-raja terdahulu Kerajaan Inderapura, sebagai berikut :

  • 1550 Sultan Munawar Syah,
  • 1570 Raja Mamulia
  • 1580 Raja Dewi
  • 1616 Raja Itam
  • 1624 Raja Besar
  • 1625 Raja Puti
  • 1633 Sultan Muzzaffar Syah, Raja Malfarsyah
  • 1660 Sultan Muhammad Syah
  • 1691 Sultan Mansur Syah
  • 1696 Raja Pesisir
  • 1760 Raja Pesisir II
  • 1790 Raja Pesisir III

VOC mendominasi keadaan

Pada penghujung abad ke-17 para peroatin masih berfungsi sebagai kepala wilayah. Namun tugas para menteri mulai bergeser seiring dengan proses terlepasnya Inderapura yang menjadi kerajaan terpisah dari Pagaruyung.

Menteri yang berada di daerah Dua Puluh Koto di Inderapura bertindak sebagai penasihat kerajaan. Menteri Empat Belas Koto bertugas mengatur rumah tangga istana, sedangkan Menteri Lima Koto bertanggung jawab atas pertahanan.

Pada tahun 1691 kawasan Anak Sungai yang berada dibawah wewenang Raja Adil dan didukung oleh Inggris melepaskan diri dari Inderapura dan menjadi kerajaan sendiri. Namun tak lama berselang ia mangkat dari jabatan dan digantikan oleh anaknya yang bergelar Sultan Gulemat (1691-1716).

Sultan Gulemat tidak berhasil menjadikan kawasan itu stabil dan kehilangan dukungan dari para menteri yang ada di kawasan tersebut. Di bawah kendali Sultan Iskandar Muda, kesultanan Aceh seraya memerangi negeri-negeri penghasil lada di Semenanjung Malaya, yang berusaha memperkuat cengkeramannya atas monopoli lada di pantai barat Sumatera.

Kendali ketat para wakil Aceh (disebut sebagai panglima) di daerah Tiku dan Pariaman juga diserang atas penjualan lada yang mengancam perdagangan Inderapura melalui jalur laut di daerah pelabuhan utara Aceh.

Oleh sebab itu Inderapura mulai mengembangkan bandaranya di selatan dan Silebar yang nantinya akan digunakan untuk mengekspor lada ke Banten. Selain itu Inderapura juga berusaha menghindari pembayaran biaya cukai kepada para panglima Aceh. Hal ini memancing kemarahan penguasa Aceh yang kemudian mengirim armadanya untuk menghukum Inderapura.

Banyak orang ditawan dan dibawa ke Kotaraja, selain itu Raja Puti yang saat itu sedang menjabat sebagai Raja Inderapura ikut dihukum mati beserta dengan beberapa bangsawan lainnya. Aceh menempatkan panglimanya di Inderapura dan Raja Malfarsyah diangkat menjadi raja untuk menggantikan Raja Puti.

Di bawah pengganti Iskandar Muda, kendali aceh melemah setelah dipimpin oleh Sultan Iskandar Tsani. Pada masa pemerintahan Ratu Tajul Alam, pengaruh Aceh di Inderapura mulai digantikan oleh Belanda (VOC).

VOC mendominasi keadaan ketika Sultan Muhammad Syah meminta bantuan Belanda untuk memadamkan pemberontakan di Inderapura pada tahun 1662. Pemberontakan ini disebabkan karena tuntutan Raja Adil yang merasa mempunyai hak atas tahta Inderapura berdasarkan sistem matrilineal. Akibatnya Sultan Inderapura terpaksa melarikan diri, beliau kabur mengajak keluarganya.

Kemudian pada tahun 1663, Sultan Mansur Syah dikirim ke Batavia untuk menanda-tangani perjanjian yang disepakati dan memberikan VOC hak monopoli pembelian lada dan hak pengerjaan tambang emas. Pada Oktober 1663 pemerintahan Inderapura kembali pulih dan Sultan Inderapura mengakui Raja Adil sebagai wakilnya yang berkedudukan di Manjuto.

Runtuhnya Kerajaan Inderapura

runtuhnya kejayaan inderapura
Istana Siak Inderapura

Pada masa Sultan Muhammad Syah, Inderapura dikunjungi oleh para pelaut Bugis yang dipimpin oleh Daeng Maruppa. Daeng Marupp kemudian menikah dengan saudara perempuan Sultan Muhammad Syah dan melahirkan seorang anak bernama Daeng Mabela yang bergelar Sultan Seian. Berdasarkan catatan Inggris, pada tahun 1688 Daeng Mabela diangkat menjadi komandan pasukan militer Bugis untuk EIC.

Pada tahun (1691-1696) Sultan Muhammad Syah digantikan oleh anaknya Sultan Mansur Syah. Hal tersebut dikarenakan pada masa pemerintahannya bibit ketidakpuasan rakyatnya atas penerapan biaya cukai yang tinggi serta dominasi monopoli dagang VOC kembali muncul.

Namun pada tahun 1696 Sultan Mansur Syah meninggal dunia dan digantikan oleh Raja Pesisir, yang pada saat itu baru berusia 6 tahun. Karena sang Raja masih sangat belia, untuk sementara waktu tahtah pemerintahan diserahkan kepada neneknya.

Puncak perlawanan rakyat Inderapura terjadi pada tahun 1701 yang menyebabkan hancurnya pos VOC di Pulau Cingkuak. Karena tak terima dengan aksi dari Inderapura, VOC kemudian membalas dengan mengirim pasukan dan berhasil mengendalikan Inderapura.

Pada tahun 1792 Kerajaan Inderapura mengalami keruntuhan, ketika garnisun VOC di Air Haji menyerbu Inderapura. Karena pertengkaran komandannya dengan Sultan Inderapura, beliau memilih untuk mengungsi ke Bengkulu dan tak lama berselang Sultan Inderapura kemudian meninggal di sana.

Penutup

Demikianlah pembahasan mengenai sejarah, kejayaan, dan runtuhnya kerajaan inderapura. Semoga pembahasan tersebut dapat memberikan pembelajaran dan pengetahuan tentang sejarah serta menambah wawasan dalam informasi sejarah.

Posting Komentar untuk "Kerajaan Inderapura : Sejarah, Kejayaan, dan Runtuhnya"