Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian Peribahasa dan Nyanyian Rakyat

peribahasa dan nyanyian rakyat

Ada banyak ragam budaya, bahasa, serta kesenian tradisional yang ada di berbagai daerah di Indonesia. Beberapa contoh ragam budaya dan kesenian tradisonal yaitu bahasa rakyat dan puisi rakyat. Salah satu contoh budaya dan kesenian tradisional yang lain yaitu peribahasa dan nyanyian rakyat.

Peribahasa Rakyat

Peribahasa merupakan sekumpulan kata yang dipadukan dengan unsur-unsur bahasa sehingga menjadi sebuah kata yang memiliki arti dan makna, baik itu menggambarkan keadaan atau menceritakan sebuah kisah tertemtu yang memiliki sebuah pesan isyarat atau nasihat. Ada berbagai macam peribahasa, salah satunya Peribahasa rakyat.

Menurut Cervantes, peribahasa rakyat atau ungkapan tradisional adalah kalimat pendek berisi nasihat bijak bagi masyarakat. Di Indonesia setiap suku bangsa memiliki khazanah peribahasa rakyat yang berisi petuah-petuah bijak dan pedoman nilai-nilai budaya dalam kehidupan masyarakat.

Misalnya, di Bali terdapat peribahasa rakyat "yen melali aluthan, dan takhut selem" yang artinya (jika berani bermain dengan arang, jangan takut menjadi hiatm). Artinya adalah apabila seseorang berani menghadapi bahaya maka ia juga harus menghadapi resikonya.

Peribahasa rakyat atau ungkapan tradisional memiliki dua sifat dasar, yaitu berbentuk satu kalimat ungkapan dan mempunyai bentuk yang baku. Berdasarkan jenisnya, ungkapan tradisional atau peribahasa rakyat dapat dikelompokkan menjadi empat golongan, antara lain sebagai berikut.

  1. Peribahasa berisi petuah bijak yang memiliki struktur kalimat yang lengkap. Misalnya, "buah yang manis berulat di dalamnya." Artinya, orang tersebut bermulut manis akan tetapi hatinya jahat.
  2. Peribahasa yang tidak lengkap kalimatnya dan berisi kiasan. Misalnya, peribahasa Melayu, yang berbunyi "terahuk kecewa, tersaukkan ikan suka, tersaukkan batang masam". Artinya orang yang ingin mengeruk keuntungan tanpa bekerja keras.
  3. Peribahasa perumpamaan, yang dimulai dengan kata-kata seperti atau bagai. Misalnya "bagai belut diregang" artinya, untuk menggambarkan orang yang sangat kurus.
  4. Ungkapan-ungkapan yang mirip peribahasa, yaitu ungkapan hinaan (insult), celetukan (retorn), atau suatu jawaban yang pendek, tajam, dan lucu, yang dapat menyakiti hati. Misalnya, ungkapan bahasa Jawa "kebo direncang, sapi ditarik" (disingkat borik), yang berisi ungkapan penghinaan terhadap seseorang yang bermuka buruk. Atau ada juga seperti, "hidup segan, mati tak mau" yang merupakan ungkapan penghinaan untuk orang yang ingin sukses dan menjadi kaya namun pekerjaannya hanya bermalas-malasan.

Nyanyian Rakyat (Folksong)

Nyanyian merupakan sekumpulan kata atau kalimat yang dicampur dengan gaya bahasa, diiringi dengan ritme irama musik sehingga menjadi sebuah kata-kata yang bermakna pada saat di keluarkan melalui suara dan membentuk sebuah harmoni yang indah.

Menurut Jan Harold Brunvand, nyanyian rakyat adalah kata-kata dan lagu tradisional yang dinyanyikan secara lisan di dalam suatu masyarakat. Nyanyian rakyat tersebut berisi ajaran moral dan budaya, keadaan geografis, peristiwa sejarah, mitos, legenda, kisah keagamaan, pendidikan, dan cara bercocok tanam, serta mengolah sawah. Isi lagu-lagu rakyat tersebut dapat diteliti untuk menggambarkan situasi sosial budaya masyarakat tradisional.

Berdasarkan kegunaannya, jenis-jenis nyanyian rakyat dapat dibagi menjadi beberapa bagian, antara lain sebagai berikut.

  • Nyanyian rakyat atau aba-aba yang digunakan untuk menggugah semangat gotong royong masyarakat. Misalnya, aba-aba holopis kuntul baris dari Jawa Timur, rambate rata hayo dari Sulawesi Selatan, atau seganti setungguan dari Lahat Sumatera Selatan.
  • Nyanyian permainan yang digunakan untuk mengiringi anak-anak yang bermain baris-berbaris. Misalnya, nyanyian baris terik tempe, ridong udele bodong artinya (berbaris seperti lauk tempe, Ridong pusarnya menonjol) yang merupakan nyanyian permainan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Berdasarkan isinya, nyanyian rakyat dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu nyanyian rakyat untuk permainan anak-anak, nyanyian rakyat umumj, dan nyanyian rakyat kerohanian. Adapun beberapa penjelasan dari nyanyian-nyanyian tersebut sebagai berikut.

a. Nyanyian Rakyat untuk Permainan Anak-Anak

Nyanyian rakyat untuk permainan anak-anak merupakan sebuah nyanyian yang biasa digunakan di kalangan masyarakat, biasanya anak-anak yang sedang bermain sambil menyanyikan lantunan syair lagu tersebut sehingga permainan menjadi riang dan gembira.

Contoh nyanyian rakyat untuk mengiringi tari atau permainan anak-anak dari berbagai daerah adalah Cublak-cublak Suweng, Ilir-Ilir, dan Jamuran (Jawa Tengah dan Jawa Timur), Cing Cangkeling (Jawa Barat), Meyong-meyong (Bali), dan Cik-cik Periok (Kalimantan).

b. Nyanyian Rakyat umum

cerita lutung kasarung
Cerita Lutung Kasarung

Nyanyian rakyat umum biasanya dinyanyikan untuk mengiringi suatu tarian. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, nyanyian rakyat umum disebut dengan istilah tembang. Misalnya, gending sinom, pucung, dan asmaradhana. Tembang tersebut berkaitan dengan sejarah penyebaran Islam di Jawa yang dilakukan oleh Wali Songo.

Para Wali Songo banyak menciptakan lagu rakyat untuk menyebarkan ajaran Islam. Misalnya, Sunan Giri menciptakan tembang Asmaradhana dan pucung. Beliau juga menciptakan lagu permainan anak-anak, seperti ilir-ilir, jamuran, dan cublak-cublak suweng. Sunan Kudus menciptakan tembang Maskumambang dan Mijil.

Sunan Muria menciptakan tembang Sinom dan Kinanti. Di Bali, nyanyian rakyat umum terdapat dalam epos Mahabharata dan Ramayana. Di Jawa Barat, terdapat nyanyian rakyat umum yang disebut pantun Sunda. Pantun Sunda berisi berbagai cerita rakyat. Misalnya, Cerita Lutung Kesarung, Cerita Sumur Bandung, Cerita Demung Kalangan, dan Cerita Mundanglaya di Kusuma.

c. Nyanyian Rakyat Kerohanian

Nyanyian rakyat yang bersifat kerohanian dinyanyikan pada saat upacara-upacara siklus hidup dan upacara keagamaan. Misalnya, nyanyian Hoho di kalangan suku Nias, dan lagu Bisi serta Pirawat di kalangan suku Asmat di Papua. Nyanyian rakyat untuk kerohanian juga berkembang pada masa penyebaran agama Islam di Indonesia.

Lagu-lagu tersebut dinyanyikan untuk mengiringi acara keagamaan, seperti pengajian dan acara hari besar agama Islam. Misalnya, lagu-lagu rakyat untuk mengiringi tari Saman dan Seudari di daerah Aceh, adapula lagu-lagu yang digunakan untuk mengiringi tari Zapin di daerah Jakarta, lagu-lagu untuk mengiringi tari hadrah, dan lagu-lagu Shalawat.

kesenian rabab aceh
Kesenian Rabab yang berasal dari Sumatera Barat

Selain berfungsi sebagai hiburan dan pembangkit semangat gotong royong, lagu rakyat juga berfungsi untuk melestarikan nilai-nilai sejarah. Nyanyian Hoho di daerah Nias digunakan untuk memelihara silsilah nenek moyang orang Nias yang disebut mado-mado (marga). Lagu-lagu rakyat Tanggomo dari Gorontalo berisi peristiwa sejarah, mitos, legenda, kisah keagamaan dan pendidikan.

Misalnya, syair-syair Tanggomo yang menceritakan serangan tentara Jepang ke Gorontalo pada tahun 1942. Di daerah Pariaman, Sumatera Barat, terdapat kesenian Rabab yang dinyanyikan seniman setempat.

Rabab Pariaman menceritakan tentang kondisi sosial budaya masyarakat setempat. Misalnya, kebiasaan merantau, masalah perjuangan hidup, kemiskinan, dan nasib malang. Salah satu syair Rabab menceritakan kebiasaan laki-laki Minang untuk merantau ke luar daerah.

Pada masa Perang Kemerdekaan, rakyat pedesaan berperan dalam membantu para pejuang kemerdekaan. Mereka mendirikan dapur umum untuk membantu logistik para pejuang. Peristiwa sejarah tersebut dilestarikan dalam bentuk tembang Caping Gunung yang populer di kalangan masyarakat pedesaan Surakarta dan Yogyakarta.

Penggunaan tradisi lisan sebagai sumber sejarah harus menggunakan pendekatan antropologis karena kebudayaan lisan tersebut mengandung unsur budaya suatu masyarakat. Karena belum mengenal tulisan, masyarakat tradisional mewariskan pengetahuannya secara lisan dan direkam dalam ingatan kolektif masyarakat. Namun, sumber sejarah tersebut harus diteliti kadar objektivitasnya dengan kritis karena sering mencampur adukkan antara mitos dan realitas.

Penutup

Demikianlah pembahasan mengenai pengertian peribahasa dan nyanyian rakyat. Ada banyak peribahasa rakyat atau nyanyian rakyat yang tersebar di nusantara, itulah tadi beberapa contoh yang dapat diberikan. Semoga pembahasan tersebut dapat memberikan pelajaran dan pengetahuan tentang sejarah serta menambah wawasan dalam informasi sejarah.

Posting Komentar untuk "Pengertian Peribahasa dan Nyanyian Rakyat"